Tugas Akhir
Studi tentang ragam hias pada candi Induk di Candi Sewu
Penelitian ini mengkaji ragam hias pada candi induk Candi Sewu, kompleks candi Buddha terbesar kedua setelah Borobudur yang dibangun pada akhir abad VIII masa Kerajaan Mataram Kuno. Bangunan ini terbagi menjadi tiga bagian vertikal, yakni kaki, tubuh, dan atap candi. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan variasi ragam hias serta menganalisis fungsi dan makna simbolisnya pada bangunan candi induk.
Ragam hias yang ditemukan merupakan stilasi bentuk geometris, tumbuhan, hewan, dan makhluk khayali. Kaki candi dihiasi purnakalasa, pilaster, yaksa, sangkha, makara, dan singa. Tubuh candi memiliki 13 ruangan dengan ornamentasi purnakalasa, kala, antefik, medalion, hingga arca Wairocana yang menggantikan arca Manjusri akibat perubahan sistem mandala. Sementara bagian atap dihiasi antefik, ragam geometris, kertas tempel, kala, dan bentuk dewa.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ragam hias Candi Sewu berfungsi meningkatkan keindahan arsitektur sekaligus memenuhi aspek religius dan pandangan hidup masyarakat pembuatnya. Berbeda dengan Candi Borobudur, ornamen di Candi Sewu tidak mengisahkan cerita khusus tertentu. Sebagian ragam hias memiliki makna simbolis religius, sedangkan sebagian lainnya murni berfungsi sebagai unsur dekoratif guna menambah kemegahan bangunan.
Tidak tersedia versi lain