Tugas Akhir
Estetika film melalui ambience non-diegetik dalam membangun atmosfir ketegangan film Siksa Kubur (2024) karya Joko Anwar
Penelitian ini mengkaji peran ambience non-diegetik dalam membentuk ketegangan film Siksa Kubur (2024) melalui empat kategori bunyi, yaitu pulse, rumble, drone, dan hiss. Dengan menggunakan metode kualitatif-deskriptif melalui identifikasi timecode, pemetaan kemunculan, serta analisis dramaturgis. Penelitian ini bertujuan memahami bagaimana ambience bekerja sebagai perangkat estetis dan bukan sekadar pengisi ruang suara. Temuan menunjukkan bahwa setiap kategori ambience memiliki fungsi dramaturgis yang spesifik. Pulse menjadi indikator intensifikasi konflik dan dominan pada adegan bertegangan tinggi; rumble muncul dalam konteks ruang kematian dan ancaman supernatural; drone bekerja sebagai penahan ketegangan psikologis dengan distribusi paling merata; sedangkan hiss eksklusif menandai momen-momen supernatural. Pemetaan sequence menunjukkan semakin padatnya penggunaan ambience pada puncak konflik, terutama pada sequence 6. Sintesis analitis mengungkap bahwa ambience non-diegetik membentuk pengalaman estetis yang aktif: memperkuat attention, imagination, dan emotion penonton sebagaimana dijelaskan oleh Munsterberg, sekaligus menghadirkan ketegangan tak berwujud yang selaras dengan prinsip estetika Kant mengenai pengalaman non-representasional serta konsep the dynamically sublime. Dengan demikian, ambience non-diegetik dalam Siksa Kubur berfungsi sebagai struktur estetis yang mengarahkan persepsi, mengatur ritme ketegangan, dan memediasi pengalaman emosional penonton.
Tidak tersedia versi lain