Buku Teks
Mendalami realitas pekerja seni perempuan dalam pengabdian terhadap seni Gandrung dengan mode ekspositori melalui film dokumenter "Meras Gandrung"
Film dokumenter Meras Gandrung mengangkat realitas kehidupan penari Gandrung perempuan di Banyuwangi yang berada di persimpangan antara sakralitas tradisi dan tuntutan industri pariwisata. Seni Gandrung yang mengalami pergeseran dari ritus spiritual pemujaan Dewi Sri menjadi pertunjukan estetis dan komoditas budaya menempatkan tubuh penari perempuan sebagai pusat representasi, sekaligus sebagai ruang kerentanan sosial, moral, dan ekonomi. Melalui penggambaran keseharian penari Gandrung Terop, ruang domestik, ruang panggung, serta prosesi Meras Gandrung, film ini memperlihatkan bagaimana tubuh penari diproduksi sebagai objek tontonan publik, dibebani stigma moral, namun pada saat yang sama menjadi penopang utama keberlangsungan tradisi. Narasi film dibangun melalui pengalaman tiga generasi penari Gandrung Mudaiyah, Temu Misti, dan Reni yang merepresentasikan keberlanjutan, pewarisan, serta ketegangan makna dalam praktik kesenian Gandrung. Meras Gandrung menggunakan gaya ekspositori untuk menyusun relasi antara narasi institusional, pandangan akademik, dan pengalaman personal penari. Penyusunan cerita dilakukan secara tematis dengan mempertemukan wacana-wacana yang saling berlawanan, sehingga menghadirkan konflik dialektik antara pelestarian dan komodifikasi, antara pengakuan estetis dan keterpinggiran sosial. Melalui pendekatan tersebut, film ini mengajak penonton merefleksikan bagaimana tubuh perempuan dalam kesenian tradisi tidak hanya bekerja secara estetis, tetapi juga memikul beban sosial, spiritual, dan politis yang kerap luput dari narasi resmi budaya.
Tidak tersedia versi lain