Tugas Akhir
Analogi dilema landak dalam batik kontemporer sebagai wujud busana witchcore style
Analogi dilema landak menggambarkan tantangan mendalam dalam hubungan antarmanusia, khususnya keseimbangan antara kedekatan emosional dan risiko saling melukai. Dalam cerita ini, dua landak yang merasa kedinginan berusaha berpelukan untuk menghangatkan diri, namun duri tajam pada tubuh mereka menyebabkan rasa sakit saat kedekatan tercipta. Dilema ini menghadirkan dua pilihan: menjalin kedekatan dengan risiko rasa sakit atau menjaga jarak untuk menghindari luka emosional, yang mengarah pada kesepian. Pemikiran ini sejalan dengan pandangan filsuf seperti Arthur Schopenhauer yang melihat penderitaan sebagai bagian tak terpisahkan dari pengalaman manusia, dan Friedrich Nietzsche yang melihat tantangan sosial sebagai peluang untuk pertumbuhan pribadi. Proses penciptaan karya ini menggabungkan pendekatan estetika menurut Clive Bell dan prinsip ergonomi, yang memastikan keseimbangan antara bentuk dan fungsi. Proses dimulai dengan perancangan motif batik, diikuti dengan sketsa, pembuatan batik, dan pewarnaan tekstil. Pendekatan ergonomi memastikan bahwa busana yang dihasilkan tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga nyaman dan fungsional untuk dikenakan. Elemen estetika dipilih untuk menyampaikan pengalaman emosional yang mendalam, sementara pertimbangan ergonomi fokus pada kenyamanan, kegunaan, dan harmoni desain. Hasil akhir dari tugas ini berupa enam busana bergaya Witchcore, yang masing-masing menggabungkan elemen Witchcore dengan desain motif batik kontemporer yang menggambarkan dilema landak. Warna dingin pseperti putih, hitam dan merah digunakan untuk melambangkan kesepian, kenyamanan dan perlindungan sehingga mewujudkan pengalaman emosional. Setiap busana menampilkan motif visual yang unik dengan makna simbolis yang menggali hubungan sosial manusia melalui desain. Karya ini mencerminkan kedalaman emosional dan dinamika manusia, serta menghadirkan gaya yang khas dan bermakna.
Tidak tersedia versi lain