Buku Teks
Pulung gantung : menyingkap tragedi bunuh diri di Gunungkidul
Setiap kali terjadi bunuh diri di Gunungkidul perspektif masyarakat luas serta-merta lari pada mitos Pulung Gantung. Sehingga tanpa disadari terbangun suatu konstruksi pemikiran bahwa (seolah-olah) faktor penyebab utamanya adalah karena mitos Pulung Gantung. Tapi, benarkah bunuh dirt yang terjadi di Gunungkidul selama ini karena adanya mitos Pulung Gantung
Buku yang ditulis oleh Darmaningtyas salah seorang warga Gunungkidul ini membongkar misteri di balik tragedi bunuh diri di Gunungkidul yang telah mentradisi itu. Melalui kajian antropologis, penulis menunjukkan bahwa tragedi bunuh diri yang selama ini terjadi di Gunungkidul bukanlah karena adanya mitos Pulung Gantung. Setelah melakukan kajian yang cermat, dia menyimpulkan bahwa Pulung Gantung hanyalah mitos dan sebagai gejala alami biasa yang baru memiliki makna setelah terjadinya peristiwa (post factum). Penyebab utamanya, menurutnya lebih karena adanya tekanan sosial-ekonomi yang amat berat.
Seperti kita tahu, Gunungkidul merupakan wilayah yang tandus dan gersang. Kesuburan dan keasriannya sebagaimana pernah dilukiskan Jhunghun pada tahun 1836 kini telah berbalik arah. Masyarakatnya rata-rata miskin. Karena kemiskinannya itu, di tahun 1970-an hingga sekarang, penduduknya banyak yang makan nasi thiwul, karena tidak mampu membeli beras. Dari data yang diungkap Darmaningtyas, terlihat bahwa mayoritas pelaku bunuh diri tersebut berasal dari golongan rendah, orang-orang 'kabur kanginan', tidak mempunyai pekerjaan yang memadai untuk keberlangsungan hidupnya. Dan pelakunya itu didominasi oleh laki-laki berumur di atas 35 tahun. Ini jelas berkorelasi dengan masyarakat patriarkal di mana laki-laki sangat berperan di dalam keluarga dan masyarakat.
Tidak tersedia versi lain