Tugas Akhir
Yaksa
Karya Yaksa tercipta atas dasar pengalaman empiris penata mengenai perjalanan kehidupan yang dialami. Memiliki latar belakang ketidaksempurnaan bentuk tubuh yang penata implementasikan kepada tokoh raseksi pada wayang. Penata ingin mencapai titik kesempurnaan yang di realisasikan dengan bedayan, dimana bedayan dianggap memiliki keharmonisasian, keanggunan, dan kecantikan yang merupakan perumpamaan kesempurnaan yang didambakan oleh seorang raseksi. Dalam karya ini penata mengunakan metode bawa rasa yang diciptakan oleh Bagong Kussudiarja yang tertulis pada bukunya yang berjudul Joged mBagong. Metode ini mengungkap bagaimana penari membawa penjiwaan dalam setiap suasana yang diberikan. Dengan menggunakan metode ini, penata menerapkan kepada para penari pada setiap proses latihan. Selain metode bawa rasa penata juga menggunakan metode Jacqueliene Smith mengenai proses penciptaan pada metode konstruksi satu, Eksplorasi, Improvisasi, Komposisi, dan Evaluasi yang diterapkan pada setiap proses latihan. Tahapan yang dilalui penata dalam proses menciptakan tari dimulai dari membedah naskah atau latar belakang cerita, dan lalu menyusun perbagian, hingga memulai proses kerja studio penata sebelum memberi materi kepada para penari. Selain proses kepada penari, panata juga berproses pada beberapa aspek pendukung karya yaitu, musik, rias busana, dan artistik. Setelah melalui beberapa tahapan proses yang dilakukan penata kepada seluruh pendukung penata melahirkan hasil karya yang berjudul Yaksa dengan hasil 100% pada tahapan seleksi tiga yang dilakukan pada tanggal 22 April 2025, dimana berdurasi 19.45 menit dan menggunakan musik live MIDI. Selain dari segi musik, hasil busana dan artistik sudah nampak pada seleksi tiga. Penggunaan secara maksimal keseluruhan artistik pada tahapan seleksi tiga dari koreografi hingga artistik. Karya Yaksa diciptakan untuk memberi pesan kepada para penikmat karya bahwa perwujudan ketidaksempurnaan pada diri seseorang tidak dapat menjadi sesuatu yang dilarutkan dalam diri, melainkan dapat membangkitkan sesuatu hal yang itu dirasa sempurna dan menjadikannya dorongan bagi diri itu sendiri. Dengan karya ini penata membuktikan bahwa keresahan dalam diri dapat dihasilkan dengan sesuatu yang bahkan menentang diri kita selama ini. Dapat memanfaatkan situasi dan kesempatan dalam hal baik akan menghasilkan hal baik juga nantinya. Perumpamaan bedayan dan raseksi secara bersamaan berhasil membuat penata penciptakan karya koreografi kelompok yang dramatis dan penuh makna.
Tidak tersedia versi lain