Tugas Akhir
Perancangan ulang alat bantu dengar BTE (behind the ear) guna memberikan fleksibilitas ukuran pada masa pertumbuhan telinga anak dengan gangguan pendengaran (usia 2-7 tahun)
Alat bantu dengar berperan penting dalam mendukung kemampuan komunikasi anak dengan gangguan pendengaran. Jenis Behind the Ear (BTE) merupakan tipe yang umum digunakan untuk anak-anak. Namun, akses terhadap alat bantu dengar di Indonesia masih sangat terbatas, dengan hanya 4,1% dari 3.196 penyandang gangguan pendengaran yang memilikinya, hal ini disebabkan oleh harga yang tinggi serta kurangnya dukungan subsidi pemerintah. Selain itu, perubahan ukuran telinga anak yang dapat bertambah hingga 81% selama masa pertumbuhan menyebabkan perlunya penggantian komponen seperti earhook dan selang, sehingga menambah beban biaya. Penelitian ini bertujuan untuk merancang ulang casing alat bantu dengar tipe BTE bagi anak usia 2–7 tahun agar dapat beradaptasi terhadap pertumbuhan telinga. Proses perancangan menggunakan pendekatan Double Diamond, dengan tahapan Discover dan Define mencakup observasi, wawancara, dan kuesioner terhadap konsultan alat bantu dengar dan orang tua. Masalah utama yang ditemukan adalah ketidaknyamanan akibat ukuran yang tidak sesuai dan kelembapan akibat keringat. Pada tahap Develop, dikembangkan sebelas alternatif ide melalui sketsa, eksplorasi sistem mekanik dengan clay, serta pembuatan model 3D dan prototipe high-fidelity. Hasilnya adalah desain alat bantu dengar dengan sistem flexible earhook dan casing slide yang dapat menyesuaikan ukuran panjang dan lebar telinga dari 17×12 mm hingga 22,5×24 mm. Dengan struktur flexible earhook yang dapat ditekuk dan casing slide yang dapat disesuaikan secara vertikal, desain ini mampu mengakomodasi perubahan anatomi telinga anak secara bertahap, sekaligus menjaga kenyamanan dan perlindungan terhadap kelembapan. Fleksibilitas ini mendukung efisiensi biaya dan keberlanjutan penggunaan selama masa pertumbuhan.
Tidak tersedia versi lain