Tugas Akhir
Integrasi ricikan gamelan dalam iringan pertunjukan Srandul Ngesti Roso di Desa Sawit, Gantiwarno, Klaten
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk garap sajian musik
iringan dalam pertunjukan Srandul oleh kelompok Ngesti Roso yang berada di Desa
Sawit, Kecamatan Gantiwarno, Kabupaten Klaten. Fokus utama terletak pada
perubahan struktur iringan yang terjadi akibat integrasi ricikan gamelan ke dalam
sajian iringan, yang sebelumnya hanya terdiri dari ricikan tradisional Srandul
seperti angklung, kendang, dan jedor. Perubahan ini bukan hanya berdampak pada
keragaman warna bunyi dalam pertunjukan, tetapi juga memengaruhi cara
kelompok menyusun dan menafsirkan garap dalam konteks adegan, tokoh, serta
suasana dramatik yang dibangun dalam pementasan.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi
kasus. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatif, wawancara,
dokumentasi langsung, serta studi pustaka. Analisis dilakukan menggunakan teori
garap yang dikembangkan oleh Rahayu Supanggah, yang meliputi enam unsur
utama: materi garap, penggarap, sarana garap, prabot garap, penentu garap, dan
pertimbangan garap. Keenam unsur ini dianalisis secara komprehensif untuk
menjawab bagaimana proses garap dibentuk berdasarkan pengalaman, kebiasaan,
dan interaksi antar anggota dalam komunitas.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi gamelan mengubah bentuk
dan fungsi iringan dalam pertunjukan Srandul Ngesti Roso dari yang awalnya
sederhana menjadi lebih pembentuk suasana, mendukung dramatik pertunjukan dan
penguat narasi. Integrasi gamelan ini menata ulang struktur iringan dengan lebih
kompleks, meski tetap mempertahankan ciri khas ricikan lama seperti angklung,
kendang, dan jedor. Garap iringan yang dihasilkan bersifat fleksibel, namun tetap
mempertahankan ciri khas kelompok. Parikan, kendhangan pinatut, serta pola
iringan yang repetitif dan komunikatif menjadi kekhasan iringan yang tidak hanya
berfungsi mendukung cerita, tetapi juga menjalin kedekatan antara pelaku dan
penonton. Garap tidak diposisikan sebagai aturan baku, melainkan sebagai jalan
kreatif yang tumbuh dari kebiasaan.
Tidak tersedia versi lain