Tugas Akhir
Penerapan Teknik Kuruma Ningyō dalam Pembelajaran Teater Boneka di Papermoon Puppet Theatre
Keunikan yang dimiliki oleh Papermoon dalam menerapkan sebuah teknik teater boneka yang berasal dari Jepang membuat penelitian ini dilakukan. Teknik tersebut bernama teknik Kuruma Ningyō. Keunikan dalam menggunakan teknik Kuruma Ningyō di Papermoon dapat menciptakan boneka tampak lebih hidup dan nyata dibandingkan dengan menggunakan teknik yang lain. Dengan demikian, tujuan penelitian ini untuk mengetahui penerapan teknik Kuruma Ningyō dan pembelajaran teknik Kuruma Ningyō di Papermoon Puppet Theatre. Metode pada penelitian ini ialah metode kualitatif dengan jenis studi kasus intrinsik. Fokus objek penelitian ini diarahkan pada penerapan teknik Kuruma Ningyō dan pembelajaran teknik Kuruma Ningyō di Papermoon Puppet Theatre dengan subjek penelitian ialah pendiri Papermoon Puppet Thatre, Maria Tri Sulistiany dan Hardiansyah Yoga Pratama salah satu anggota Papermoon. Pengumpulan data dilakukan melalui beberapa teknik, yaitu observasi nonpartisipan, wawancara semi terstruktur, serta dokumentasi. Untuk memastikan validitas data, penelitian ini menggunakan triangulasi metode. Analisis data yang digunakan yakni organisasi data, pembacaan dan memoing, mendeskripsikan data menjadi kode dan tema, mengklasifikasi data menjadi kode dan tema, menafsirkan data, dan menyajikan atau memvisualkan data Kegiatan workshop di Papermoon Puppet Theater dapat dikatakan sebagai proses pembelajaran yang efektif karena telah memenuhi tujuh komponen utama pembelajaran, yaitu bahan ajar, tujuan pembelajaran, pendidik, peserta didik, metode, media, dan evaluasi. Pembelajaran ini tidak hanya memberikan pemahaman teoritis, tetapi juga pengalaman praktis yang mendalam bagi peserta dalam menguasai teknik Kuruma Ningyō. Penerapan teknik Kuruma Ningyō di Papermoon, yang melibatkan penggunaan kuruma (kursi roda kecil) dan boneka dengan ukuran yang bervariasi, secara signifikan mempengaruhi bentuk dan kualitas pertunjukan. Perbedaan ukuran kuruma dan boneka dapat mempengaruhi gerakan boneka, sehingga ukuran kuruma dan boneka harus sesuai, dengan begitu dapat menghasilkan ekspresi dan realisme yang lebih hidup dalam pertunjukan teater boneka. Dengan demikian, proses pembelajaran yang terstruktur dan penerapan teknik Kuruma Ningyō yang adaptif saling melengkapi untuk menciptakan karya seni pertunjukan yang berkualitas tinggi dan memberikan nilai edukatif yang mendalam bagi para peserta dan penikmat seni, serta dapat bermanfaat bagi guru seni budaya, peneliti selanjutnya, dan pecinta teater boneka.
Tidak tersedia versi lain