Tugas Akhir
Transformasi Rinding Gumbeng Gunungkidul dalam acara HUT Republik Indonesia ke-77 di Istana Negara Jakarta
Rinding Gumbeng dusun Duren Kalurahan Beji, Kapanewon Ngawen, Kabupaten Gunungkidul, dalam konteks penampilannya pada perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia ke-77 di Istana Negara Jakarta. Rinding Gumbeng, sebagai salah satu warisan tradisional agraris, awalnya hadir dalam konteks ritual dan kehidupan masyarakat pedesaan, terutama sebagai rasa syukur atas hasil panen. Namun, ketika dipentaskan di ruang kenegaraan yang formal dan terstruktur, kesenian ini mengalami sejumlah perubahan bentuk dan penyajian. Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui bentuk penyajian Rinding Gumbeng dalam acara HUT RI ke-77 serta bagaimana perkembangan musik tradisional ini mempertahankan esensinya ketika dipindahkan ke ruang pertunjukan formal. Dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif dan pendekatan etnomusikologis, data diperoleh melalui observasi langsung, wawancara mendalam dengan pelaku seni, dan dokumentasi pertunjukan. Teori Garap Rahayu Supanggah dan Transformasi oleh Umar Kayam sebagai landasan teori untuk membedah permasalahan yang ada. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat penyesuaian unsur musikal dan struktur penyajian agar sesuai dengan format acara kenegaraan, namun transformasi ini tetap menjaga esensi budaya dan identitas lokal yang melekat pada Rinding Gumbeng. Penampilan di Istana Negara mendapat apresiasi dari tamu undangan VVIP yang melintas di depan panggung Rinding Gumbeng, bahkan ada beberapa menteri yang ikut berjoged seiring lagu yang disajikan.
Tidak tersedia versi lain