Tugas Akhir
Aksara X sebagai representasi diri dalam cancel culture
Fenomena cancel culture telah menjadi bagian dari dinamika sosial di era digital, di mana individu atau kelompok dapat menerima kecaman publik secara masif akibat tindakan atau opini yang dianggap bermasalah. Dalam konteks ini, ekspresi diri mengalami pergeseran—baik sebagai bentuk perlawanan, penyamaran, maupun pencarian identitas baru. Penelitian ini mengeksplorasi bagaimana Aksara X, sebagai elemen visual yang dikembangkan, merepresentasikan identitas personal dalam menghadapi tekanan cancel culture. Pendekatan yang digunakan adalah metode kualitatif-deskriptif dengan studi pustaka, observasi media sosial, dan wawancara mendalam terhadap individu yang pernah mengalami atau menyuarakan pengalaman terkait cancel culture. Aksara X dirancang sebagai sistem visual simbolik yang merepresentasikan narasi personal, ketegangan antara eksistensi dan penghapusan, serta kebutuhan untuk tetap bersuara dalam ruang yang rentan terhadap penghakiman. Hasil perancangan menunjukkan bahwa Aksara X tidak hanya berfungsi sebagai medium artistik, tetapi juga sebagai bentuk kritik sosial yang merefleksikan identitas cair, trauma digital, dan resistensi terhadap pembungkaman. Karya ini diharapkan mampu membuka ruang dialog tentang kebebasan berekspresi dan kompleksitas representasi diri dalam budaya digital saat ini
Tidak tersedia versi lain