Tugas Akhir
Bani menunggang batu: penciptaan naskah drama terinspirasi peristiwa meninggalnya mbah Maridjan
Kasatriyan dan Kaprawiran adalah arti yang lebih pribadi dari harga diri seseorang. Prinsip ini tidak serta merta bisa timbul, ada Laku atau jalan yang harus ditempuh untuk menuju ke sana. Selama menjalani Laku, perasaanlah yang terus diolah sampai pada kondisi Rumangsaning Rasa yaitu menganggap diri hanya sebagai Warana. sebagai peran yang hadir di dunia. Barangkali ini terjadi pada almarhum Mbah Maridjan yang enggan turun hingga meninggal dengan posisi sujud ketika Gunung Merapi meletus. Mbah Maridjan dan Rumangsaning Rasa tidak hidup sendiri. Ia hadir dalam suatu lingkungan sosial. Banyak terjadi peristiwa Pro dan Kontra dari kalangan bawah, menengah sampai atas dikarenakan Rumangsaning Rasa memiliki sesuatu yang lebih pribadi, di yakini diri sendiri sehingga tidak bisa langsung diterima dan disepakati bersama. Pro-kontra yang bergulir tidak jarang menyinggung berbagai macam wilayah : agama, ekonomi bahkan politik. Intertekstual membuka pandangan bahwa setiap teks adalah rajutan dari teks-teks sebelumnya. Setiap teks memungkinkan untuk bisa dipelajari dan dikaji dari pusat budaya kemudian digunakan sebagai bahan kebutuhan dalam hal ini adalah kreator. Pada kesempatan kali ini penulis menggunakan intertekstualitas untuk teori penciptaan naskah drama yang terinspirasi dari peristiwa meninggalnya almarhum Mbah Maridjan
Tidak tersedia versi lain