Buku Teks
Menapak jejak sultanul auliya sunan bonang
Sebagai penyiar agama yang cerdas, Sunan Bonang memilih jalur kebudayaan, la tidak menghilangkan kebudayaan lokal, melainkan justru memupuknya sambil memberinya muatan nilai-nilai ajaran Islam. Alhasil, Islam di tangan Sunan Bonang bukanlah Islam yang berwajah asing melainkan Islam yang sudah berwajah Nusantara. Penyiaran Islam ala Sunan Bonang ini ternyata sangat efektif. Masyarakat tidak menolak ajaran Islam karena ajaran itu ada di dalam kebudayaan mereka sendiri. Banyak dari mereka sudah mencintai ajaran Islam yang diperkenalkan Sunan Bonang bahkan sebelum mereka memeluk Islam. Dengan demikian, bisa disimpulkan bahwa metode dakwah yang digunakan Sunan Bonang bukanlah mengislamkan Indonesia melainkan mengindonesiakan Islam. Sayyid Makhdum Ibrahim at-Tubany (Sunan Bonang) merupakan Sultanul Auliya fi Jawa, sebagai pemimpin para waliyullah di Nusantara. Sayyid Makhdum Ibrahim merupakan guru para wali, guru para ulama, guru para sulthan, guru para senapati dan guru para adipati, yang ilmunya sukar ditandingi dan wawasan kebangsaannya sungguh luar biasa. Bahkan ada pepatah dari ulama-ulama Hadramaut yang mengatakan bahwa barang siapa yang masuk ke Pulau Jawa dan tidak berziarah ke Tuban, maka sama halnya masuk ke Madinah tidak berziarah ke makam Baginda Nabi.
Tidak tersedia versi lain