Buku Teks
Tari Minangkabau Dalam Ruang dan Waktu
Secara keseluruhan masyarakat Minangkabau dituntun oleh tiga kelompok elit tradisional yaitu, golongan adat, golongan Alim Ulama, dan golongan Angku-Angku. Golongan adat dimotori oleh pemuka adast (para ninik mamak, Penghulu, dan bundo kanduang), golongan Alim Ulama dimotori oleh tokoh-tokoh agama, sedangkan golongan Angku-Angku dimotori oleh orang-orang terpelajar (akademis). Golongan adat yang dimotori oleh pemuka adat hidup sebagai masyarakat tradisional di desa-desa yang beraktivitas sebagai petani, golongan Alim Ulama adalah masyarakat tradisional yang mendalami dan memotori aktivitas dan pengkajian agama (Islam), sedangkan golongan Angku-angku adalah orang-orang yang beraktivitas sebagai pegawai pemerintah, yang tidak lagi hidup sebagai petani di desadesa, tetapi sudah menjadi pegawai pemerintah yang beraktivitas diperkantoran di lingkungan kota.
Ketiga golongan tersebut mempunyai corak dan sikap kehidupan yang berbeda. Corak dan sikap kehidupan tersebut memobilitas tiga jenis seni Minangkabau yang berdampak terhadap munculnya tiga gaya tari Minangkabau.
Kehadiran seni tari di Minangkabau tentu tidak terlepas dari faktor lingkungan, geografis, sosial-budaya, dan historis. Oleh karena perbedaan latar belakang sosial budaya, geografis, dan historis pegiat kesenian di Minangkabau mengakibatkan munculnya tiga gaya tari, yaitu tari Minangkabau gaya sasaran, tari gaya surau, dan tari gaya Melayu. Munculnya karakteristik tiga gaya tari tersebut dilatarbelakangi oleh ruang lingkup masyarakat atau tipe-tipe sosial masyarakat pendukungnya. Ruang lingkup yang memberi ciri atau kespesifikan terhadap tiga gaya tari Minangkabau itu adalah norma adat istiadat, norma agama Islam, dan norma atau sikap kehidupan masyarakat bandar/kota yang dipengaruh oleh pendidikan formal.
Tidak tersedia versi lain