Tugas Akhir
Hue dan value warna pada film mean girls dalam perspektif feminisme
Kehadiran warna bukanlah hal yang baru dalam dunia film. Warna dapat digunakan sebagai alat atau simbol yang dapat menyampaikan pesan. Film Mean Girls menjadi salah satu film yang menggunakan warna sebagai simbol. Dalam film Mean Girls, warna pink digunakan secara berulang. Hal tersebut perlu untuk dikaji lebih dalam terlebih karena karakter dan ceritanya berpusat pada identitas, dalam hal ini perempuan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memahami bagaimana hue dan value warna diterapkan sebagai simbol dalam film Mean Girls. Data yang ada kemudian akan dianalisis menggunakan teori analisis isi. Guna mempertajam hasil analisis, data juga akan ditafsirkan melalui teori feminisme eksistensialis Simone de Beauvoir untuk melihat, menandai, dan menafsirkan tanda, dalam hal ini atribut warna serta karakter perempuan di dalamnya. Dari analisis yang telah dilakukan, dapat dibuktikan bahwa film Mean Girls menggunakan warna untuk menciptakan kontras, harmoni, dan keseimbangan. Warna juga digunakan sebagai associative color dan menjadi simbol dari sosok Mean Girls. Penelitian juga menunjukkan bahwa sesuai dengan teori feminisme eksistensialis, penyebab subordinasi perempuan (perempuan sebagai gender kelas dua) masih terlihat. Hal tersebut ditunjukkan dari fakta, mitos, dan kehidupan perempuan. Adapun hubungan antara warna, film Mean Girls, dan feminisme eksistensialis mencakup mengenai warna pink yang digunakan sebagai simbol feminitas dari The Plastic atau sosok Mean Girls. Warna pink menjadi parodi feminitas yang sesuai seperti yang Beauvoir kemukakan mengenai bagaimana masyarakat mengondisikan perempuan untuk menjadi feminin. Hal tersebut sesuai dengan landasan teori feminisme eksistensialis Simone de Beauvoir yakni “one is not born, but rather, becomes a woman” atau perempuan tidak dilahirkan sebagai perempuan tapi menjadi perempuan.
Tidak tersedia versi lain