Tugas Akhir
Perempuan (tak) bertubuh
Karya “Perempuan (Tak) Bertubuh” adalah koreografi kelompok dengan 3 penari yang berpijak pada laku ngeden, ngendhit, ngendog. Ngeden, ngendhit, dan ngendhog merupakan respresentasi dari laku manusia dalam menjalankan ibadah puasa. Tiga hal tersebut merupakan nilai filosofi dari Warak Ngendhog. Warak Ngendhog merupakan sebuah hewan mitologi yang ada di Kota Semarang. Mulanya merupakan mainan yang selalu hadir dalam rangkaian acara Dugderan dan kini merupakan ikon di Kota Semarang yang memiliki nilai filosofi dan dimaknai dalam tiga hal, yaitu ngeden, ngendhit dan ngendog. Tiga hal tersebut dimaknai menjadi kata kerja menahan, menjaga, dan melepaskan yang kemudian diproyeksikan ke dalam pengendalian diri sebagai upaya pembebasan perempuan terhadap kuasa tubuhnya. Secara visual karya ini disajikan pada proscenium stage dan tersusun atas empat segmen mengenai menahan, menjaga, keterbelengguan, dan pelepasan. Karya ini menggunakan musik dengan format MIDI berdurasi 21 menit yang ritmis dan ilustratif dengan dominasi suasana ketertekanan, keterkungkungan, dan ketenangan. Tipe tari yang digunakan dalam karya ini adalah tipe tari dramatik. Karya ini menggunakan bantuan visual mapping dalam setiap segmen untuk membantu memberikan efek serta memperkuat penyampaian pesan mengenai perempuan, keterbelengguan, distraksi dan ketenangan. Proses penciptaan karya ini mengkombinasikan metode practice led research (penelitian berbasis praktek) yang memiliki tiga tahap dalam kerjanya yaitu observasi, wawancara dan dokumentasi, serta menggunakan metode Creating Through Dance oleh Alma Hawkins yang terdiri dari tiga tahapan yaitu improvisasi, eksplorasi, dan komposisi. Harapannya karya ini tidak hanya menjadi media ekspresi artistik, tetapi ruang refleksi bagi penata ataupun penonton serta mampu memotivasi perempuan untuk terus berjuang atas kebebasan dirinya dari keterbelengguan dan kontruksi sosial serta budaya yang kerap tak berkesesuaian.
Tidak tersedia versi lain