Tugas Akhir
Estetika Tari Bedhaya Mintaraga Yasan Dalem Sri Sultan Hamengku Bawana Ka 10 (Versi Catur Sagatra) Di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat
Tulisan ini mengupas “Estetika Tari Bedhaya Mintaraga Yasan Dalem Sri Sultan Hamengku Bawana Ka 10 (Versi Catur Sagatra) Di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat”. Tari Bedhaya Mintaraga adalah salah satu tarian adi luhung yang diciptakan oleh Keraton Yogyakarta atas perintah langsung dari Sri Sultan Hamengku Bawana Ka 10. Kata “Mintaraga” diambil dari nama yang disandang oleh salah satu tokoh pewayangan terkemuka yang dikenal sangat tampan serta memiliki kesaktian luar biasa yakni Raden Harjuna ketika melakukan tapa brata di puncak Gunung Indrakila. Pentingnya mengetahui dan memahami nilai-nilai estetika yang terkandung dalam tari Bedhaya Mintaraga sebagai budaya tradisi yang terus dilestarikan hingga saat ini menjadi alasan utama penulis melakukan penelitian ini. Penelitian ini menggunakan pendekatan estetika berdasarkan konsep pemikiran Jawa yang sangat kental akan makna-makna filosofisnya dan akan didukung oleh dasar pemikiran Elizabeth R. Hayes untuk mengupas teori estetika berkaitan dengan pengamatan indrawi yang dilakukan oleh penulis dengan melakukan analisis terhadap nilai estetika dari tari Bedhaya Mintaraga. Berdasarkan pola pemikiran yang dianut oleh masyarakat Jawa, segala hal yang ada alam semesta ini sejatinya telah ditelaah melalui berbagai macam simbol maupun ajaran kebaikan sehingga diharapkan mampu menjadi pengingat bagi umat manusia. Pemahaman makna-makna filosofis yang terkandung di dalam tari Bedhaya Mintaraga dalam penelitian akan dilihat berdasarkan pandangan konsep Jawa tersebut, sedangkan keindahan-keindahan yang muncul di dalam tarian secara material ataupun tekstual akan diteliti berdasarkan pendekatan estetika yang dilandasi oleh pemikiran Hayes. Berbagai unsur material yang hadir di dalam pertunjukan tari Bedhaya Mintaraga seperti tema, penari, gerak, pola lantai, properti, iringan, busana serta tempat pertunjukan menjadi bagian yang saling terkait satu sama lain sehingga mampu menghasilkan sebuah kesatuan yang harmonis dan indah. Pemahaman konsep Jawa mengenai aspek wiraga, wirama, dan wirasa dalam “Kawruh Joged Mataram” sebagai bentuk dari pengalaman estetis (experience aesthetic) juga turut memperkuat relasi antar unsur-unsur yang telah disebutkan sebelumnya.
Tidak tersedia versi lain