Tugas Akhir
Ayam pelung sebagai motif batik dalam busana streetwear
Ayam Pelung merupakan fauna yang berasal dari Cianjur, hasil dari perkawinan silang
antara ayam jantan yang berpostur tinggi dan suara yang mengalun dengan ayam betina
biasa. Masyarakat menggambarkan Ayam Pelung sebagai simbol keberanian dan
kemenangan. Maka dari itu, pemerintah menggunakan kalimat “Cianjur Jago” sebagai
slogan wilayah dan Ayam Pelung sebagai ikon kota. Berdasarkan nilai historis dan
ketertarikan visual, penciptaan Ayam Pelung sebagai Motif Batik dalam Busana
Streetwear ini dibuat bertujuan untuk menjelaskan konsep motif batik, mewujudkan
proses penciptaan busana streetwear, dan menciptakan hasil karya busana streetwear
dengan motif Ayam Pelung.
Metode penciptaan karya ini menerapkan teori estetika, teori ergonomi dan teori desain
sebagai metode pendekatan. Metode penciptaan terbagi menjadi tiga tahap sesuai
dengan teori S.P. Gustami; eksplorasi, perancangan, dan perwujudan. Perwujudan
karya ini dibuat menggunakan teknik batik tulis dengan teknik pewarnaan colet dan
pewarnaan celup yang menggunakan pewarna sintetis yaitu remasol dan naptol. Bahan
utama penciptaan karya ini adalah kain primisima kereta kencena dengan kain jeans.
Tahap akhir pada proses penciptaan karya ini menggunkan teknik jahit yang
menggunakan mesin.
Penciptaan karya tugas akhir ini mewujudkan tiga karya busana wanita dan tiga karya
busana pria, dengan judul; “Sangkal,” “Jajangka,” “Jadoan,” “Menang,” “Melawan,”
dan “Bertahan.”. Karya pertama yaitu, berupa kemeja crop dengan kerah kemeja dan
mini skirt dengan luaran tile selutut. Karya kedua berupa crop puffer vest dengan
bawahan pleated skirt. Karya ketiga berupa asimetris one shoulder dress ditambah
bustier. Karya Keempat berupa denim vest dengan konsep bawahan ripped pants.
Karya kelima berupa sleeveless puffer vest dan kargo pendek di atas lutut. Dan karya
terakhir berupa crop denim vest dengan kerah mandarin dan straight pants..
Tidak tersedia versi lain