Tugas Akhir
Penerapan Ostinato pada komposisi Musik “Karhutla” dengan Format Paduan Suara
Kebakaran hutan dan lahan merupakan masalah yang memberikan dampak serius terhadap lingkungan hidup, dan terjadi hampir setiap tahun di Indonesia. Masalah ini menjadi perhatian masyarakat, termasuk pelaku seni. Hal tersebut mendorong penulis untuk membuat karya musik berjudul “Karhutla” yang mengangkat isu kebakaran hutan dan lahan. Suasana kebakaran hutan pada karya ini dijelaskan oleh penulis dengan menggunakan teknik ostinato dalam format paduan suara. Sepanjang pengetahuan penulis, tidak banyak karya paduan suara yang mengangkat isu kebakaran hutan dengan menggunakan teknik ostinato. Rumusan ide penciptaan dalam karya ini meliputi penerapan ostinato, dan implementasi interpretasi suasana kebakaran hutan dan lahan ke dalam karya musik “Karhutla”. Proses yang dilakukan dalam penciptaan karya “Karhutla” adalah perumusan ide penciptaan, penentuan judul, dan observasi berbagai karya dan kepustakaan yang relevan. Terdapat eksplorasi ide-ide musikal, perumusan konsep musikal, perancangan sketsa dasar, penentuan instrumentasi, dan penggarapan detail karya dengan memperhatikan penerapan ostinato serta implementasi interpretasi suasana agar dapat menghadirkan suasana kebakaran hutan dan lahan. Penerapan ostinato pada gerakan ketiga tersebut disesuaikan dengan suasana yang ingin dijelaskan, sehingga ostinato pada gerakan ketiga tersebut memiliki karakter yang berbeda. Pada gerakan pertama, penerapan ostinato banyak menggunakan tidak seperdelapan dengan interval minor 2nd, mayor 2nd, dan minor 3rd yang bertujuan untuk menggambarkan api. Implementasi suasana pada gerakan ini juga dilakukan dengan menggunakan konsep aleatorik, polychord, polytonal, dan akor dengan nada superimpose. Pada gerakan kedua, penerapan ostinato dilakukan dengan membuat 2 pola ostinato yang membentuk interval minor 2nd, dan diminished 5th untuk membangun suasana mencekam. Implementasi suasana pada gerakan ini juga dilakukan dengan menggunakan konsep aleatorik, teknik bisikan, dan penggabungan warna suara. Pada gerakan ketiga, penerapan ostinato dilakukan untuk memberikan tekstur dan membangun suasana tenang, sehingga pola ostinato yang digunakan bergerak secara statis. Implementasi suasana pada gerakan ini juga dilakukan dengan menggunakan tangga nada mayor diatonis, tekstur homofon, pengolahan dinamika, dan akor dengan nada superim-pose. Implementasi suasana pada gerakan ini juga dilakukan dengan menggunakan konsep aleatorik, teknik bisikan, dan penggabungan warna suara. Pada gerakan ketiga, penerapan ostinato dilakukan untuk memberikan tekstur dan membangun suasana tenang, sehingga pola ostinato yang digunakan bergerak secara statis. Implementasi suasana pada gerakan ini juga dilakukan dengan menggunakan tangga nada mayor diatonis, tekstur homofon, pengolahan dinamika, dan akor dengan nada superim-pose. Implementasi suasana pada gerakan ini juga dilakukan dengan menggunakan konsep aleatorik, teknik bisikan, dan penggabungan warna suara. Pada gerakan ketiga, penerapan ostinato dilakukan untuk memberikan tekstur dan membangun suasana tenang, sehingga pola ostinato yang digunakan bergerak secara statis. Implementasi suasana pada gerakan ini juga dilakukan dengan menggunakan tangga nada mayor diatonis, tekstur homofon, pengolahan dinamika, dan akor dengan nada superim-pose
Tidak tersedia versi lain