Penelitian
Rekonstruksi 3D Landmark Perkampungan Peradaban Kuno Situs Liyangan Berdasrkan Temuan Arkeologis Balai Arkeologi Yogyakarta
Artefak fisik dan hasil temuan arkeologis dapat dipindai secara 3D menggunakan perangkat pemindai, yaitu 3D Terrestrial Laser Scanning (TLS), berbasis foto dengan teknik photogrammetry. Sistem kerjanya sebatas memindai kondisi situs saat itu dan harganya masih mahal. Balai Arkeologi menghadirkan kondisi situs pada zaman situs sebagai bangunan yang sakral atau dilihat dari aspek fungsinya. Tujuan penelitian adalah menghadirkan kembali kondisi situs seperti pada masa kejayaannya dengan menggunakan metode visualisasi 3D. Objek penciptaan dan proses rekonstruksi 3D landmark dari data arkeologis Balai Arkeologi DIY dan Situs Liyangan, Temanggung, Jawa Tengah. Proses rekonstruksi 3D dibantu peneliti Balai Arkeologi DIY supaya objektivitas dan validitas data terjaga secara keilmuan. Proses penciptaan dengan permodelan aset, tekstur, dan perancangan tata letak. Produksi rekonstruksi 3D menggunakan perangkat lunak 3Ds Max dan mesin game Unreal sebagai penyaji antarmuka akses bagi pengguna berikut interaksinya, kemudian dilakukan evaluasi pengujian berdasarkan sisi persepsi arkeologi. Hasil evaluasi, situs liyangan dinyatakan lebih tua daripada situs yang ada di sekitarnya, terbukti adanya situs yang mendampingi pada era yang sama, antara lain Candi Dharmasala di kompleks Candi Dieng yang belum menerapkan sistem relief seperti Candi Dieng. Hasil pengumpulan data dari buku referensi di Balai Arkeologi dan pengamatan di lapangan, proses rekonstruksi Situs Liyangan dinyatakan berhasil sesuai dengan bukti persepsi arkeologis tersebut. Dengan demikian, hasil akhir yang didapat berupa tercapainya purwarupa rekonstruksi 3D landmark Situs Liyangan.
Tidak tersedia versi lain