Buku Teks
Seandainya Saya Kritikus Film
Buku ini dimulai dari sebuah resolusi tahun baru. Menjelang tutup tahun, saya bertekad dalam hati: tahun depan saya harus menulis buku. Pilihan saya jatuh pada buku tentang film. Lebih khusus lagi, saya ingin menulis soal kritik film. Mengapa buku soal kritik film? Ini berangkat dari kenyataan yang saya temukan saat menjadi wartawan Bintang Indonesia. Mungkin jadi wartawan film kedengarannya menyenangkan, bisa nonton lebih dulu dari orangorang. Gratis pula. Tapi, sesungguhnya, menjadi wartawan yang bertugas meliput perfilman tidaklah mudah. Saya mengalaminya. Kami sering tergagap menghadapi film yang kami tonton. Walhasil tulisan kritik yang kami hasilkan seadanya. Alih-alih menjadi sparing partner pemikiran yang sejajar dengan sineas, kami malah memberi ulasan dangkal. Kami sekadar bilang filmnya bagus atau jelek-tanpa uraian tentang dari mana kesimpulan itu datang; sebut nama pemainnya si anu dan anu; sutradaranya si anu.
Tidak tersedia versi lain