Buku Teks
Anak Desa Diajarnya Berkata, Dibimbingnya Berjalan
Jarum jam terasa berjalan makin cepat, hari berganti hari, minggu C_berganti dengan bilangan hari menunggu saat serah terima diadakan, berbagai pikiran dan perasaan datang dan hilang entah ke mana, kadangkadang muncul perkiraan akan hilangnya kekuasaan dan kewibawaan, baik di kalangan karyawan, maupun di masyarakat dan habisnya kharisma dan lenyapnya harkatdan martabat diri. Bertahun-tahun telah biasa disanjung, dipuji, dihormati dan disegani, tiba-tiba semua itu menjauh dari kita. Yang paling diragukan, setelah pensiun nanti apa yang akan dikerjakan agar harkat dan martabat selama ini melekat pada jabatan yang diemban lestari adanya, jangan sampai menjadi orang tua yang tidak berguna lagi, terutama pada masyarakat. Sudah 36 tahun terbiasa dengan cara-cara protokoler, pagi-pagi berpakaian dinas rapi, tas diangkat ajudan, naik mobil pintu dibukakan begitu pula turun mobil, langsung berjalan cepat merunduk, masuk kantor, satpam berteriak memberi hormat, disusul oleh ajudan yang membawa tas dan surat-surat yang sudah ditandatangani. Kalau ada keperluan di kantor tinggal tekan tombol bel, satu orang siap menunggu perintah untuk disuruh kemana saja. Jika akan berangkat ke luar Daerah tinggal bilang, semua dipersiapkan oleh staf,tiketdibelikan,ke lapangan terbang diantar, check in diuruskan, terima boarding pass dan langsung naik. Tas dan barang jinjingan yang dititipkan ibu pun diantar ke atas pesawat. Itulah gaya hidup yang sering dipertontonkan oleh pejabat pada masa itu, kehidupan penuh glamour. Setelah kekuasaan, sebagai syarat-syarat protokoler diserahkan apakah saya masih seperti itu, tidakkah orang akan menertawakan saya? Ada kebiasaan yang juga sulit dibayangkan yaitu selama 36 tahun kita biasa keluar rumah untuk bekerja dan sibuk, akan tetapi setelah pensiun nanti ke mana saya pergi. pagi-pagi itu? Tetap di rumahkah? Apa yang saya kerjakan? Pertanyaan itu terus bergelinding tanpa ada jawaban yang jelas
Tidak tersedia versi lain