Tugas Akhir
Satire Tubuh Perempuan Kelompok Seni Sahita di Panggung Seni Pertunjukan
Penelitian ini berjudul “Satire Tubuh Perempuan Kelompok Seni Sahita di Panggung
Seni Pertunjukan.” Sahita yang menjadi subjek utama penelitian adalah sebuah
kelompok seni pertunjukan dari Surakarta, Jawa Tengah. Sahita terbentuk tahun
2001 dan beranggotakan empat perempuan yang di tahun 2017 ini berusia antara 45-
56 tahun. Latar belakang penelitian ini dilakukan adalah, pertama, beragam media
(secara khusus televisi) hampir selalu menghadirkan gambaran perempuan yang
dianggap ideal, sehingga membentuk stereotip masyarakat terhadap tubuh
perempuan. Kedua, stereotip tubuh perempuan yang dianggap ideal untuk tampil di
panggung seni pertunjukan, dipengaruhi tayangan televisi. Ketiga, jumlah seniman
yang tampil di layar televisi semakin banyak, dan seolah-olah hal itu menjadi
parameter keberhasilan para seniman. Keempat, karya-karya Sahita menghadirkan
seni tradisi sekaligus kontemporer, di mana Sahita berusaha membebaskan diri dari
stereotip tubuh perempuan secara satiris di panggung seni pertunjukan.
Persoalan utama penelitian adalah “Mengapa Sahita mencoba membebaskan diri
dari stereotip tubuh perempuan secara satiris di panggung seni pertunjukan?”
Turunan dari rumusan masalah penelitian tersebut yaitu: 1) Bagaimana Sahita
menghadirkan tubuh perempuan secara satiris di panggung seni pertunjukan?; 2)
Mengapa Sahita mengeksplorasi tema tubuh perempuan secara satiris dalam proses
kreatif mereka? 3) Bagaimana Sahita menanggapi pengaruh media televisi yang
membentuk stereotip tubuh perempuan di panggung seni pertunjukan?
Penelitian ini berada dalam ranah seni pertunjukan di Indonesia, dan dianalisis
dengan mendialogkan konsep satire (Paul Simpson), estetika sebagai politik (Jacques
Rancière), dan rezim seni yang terdiri dari rezim etik, rezim representatif, dan rezim
estetik (Jacques Rancière). Proses penelitian menggunakan metode life history (Sam
Pack), yaitu merujuk pada penceritaan pengalaman-pengalaman hidup seseorang
yang diceritakan oleh orang tersebut pada peneliti.
Hasil analisis penelitian adalah: 1) Dalam berkarya, Sahita memadukan unsurunsur
visual (tampil sebagai perempuan lanjut usia yang lincah dan jenaka), suara
(tembang/nyanyian, dialog, akapela), gerak (olah tubuh dan gerakan tari), bunyi
(musik), dan area “main-main” yang terbuka di sepanjang pertunjukan. 2) Inspirasi
karya Sahita berasal dari pengalaman pribadi para personel Sahita dan isu yang
berkembang di masyarakat. 3) Sahita memilih menggelar lakon secara satire dengan
menggunakan tawa sebagai perisai, karena dengan begitu Sahita bisa mengatakan
apa yang sulit dibicarakan dalam kehidupan sehari-hari. 4) Di tengah kegelisahan
dalam melahirkan karya, keberadaan Sahita terombang ambing di antara tiga rezim
seni yang tarik menarik di setiap karya mereka, yaitu rezim etik, rezim representatif,
dan rezim estetik. 5) Menanggapi dominasi televisi, Sahita memilih menerima,
berkompromi, dan menikmati irama yang ditawarkan media televisi.
Estetika sebagai politik terasa kuat pada saat Sahita tampil di panggung
pertunjukan langsung, dan meskipun samar, masih terasa secara visual dalam
penampilan Sahita di layar televisi. Komitmen Sahita dalam menyuarakan
permasalahan kaum perempuan merupakan kategori politik yang selalu hadir dalam
pertunjukan mereka, karena itu, estetika sebagai politik benar-benar menyatu dalam
karya-karya Sahita.
Tidak tersedia versi lain