Tugas Akhir
Mantra Weda dalam Upacara Satu Suro di Pendopo Agung Trowulan Jawa Timur
Setiap Suro mantra weda selalu dipakai meskipun istilah itu bersumber
dari bahasa sansekerta (Hindu), sedangkan mayoritas masyarakat pendukungnya
memeluk agama Islam. Selain itu bentuk penyajian mantra weda dalam Suro
hingga kini belum ada yang meneliti secara detail. Dari fenomena tersebut muncul
pertanyaan yaitu mengapa mantra weda dilantunkan dalam peringatan Suro di
tengah-tengah masyarakat yang mayoritas menganut agama Islam dan bagaimana
bentuk penyajian vokal mantra weda dalam upacara Suro. Adapun tujuan dari
penelitian ini adalah ingin mengetahui faktor-faktor mantra weda dalam upacara
itu dan mendiskripsikan atau menginformasikan penyajian mantra weda dalam
peringatan Suro.
Metode yang digunakan adalah deskriptif analisis yang dikerjakan melalui
pengumpulan data (observasi, wawancara, studi pustaka, dokumentasi) dan
analisis data. Ada dua faktor pendorong pemakaian mantra weda, yakni faktor
internal dan eksternal. Bentuk penyajian vokal yang digunakan adalah tembang
macapat dhandhanggula dengan syair asli Jawa.
Dalam upacara peringatan Suro di Trowulan, bentuk penyajian mantra
weda berfungsi sebagai doa, penanaman tradisi Jawa, perlindungan spiritual
sehingga bisa menjadi tolak bala dan penggugah spirit masyarakat, pemujaan
terhadap leluhur Jawa, dan mempertebal kerukunan
Tidak tersedia versi lain