Berita

Pengumuman Pemenang Lomba Desain Photobooth Perpustakaan

Pameran Koleksi Perpustakaan 2025

Pada Saat Pembelajaran Daring Layanan Perpustakaan Tetap Buka

Lomba Desain Photobooth

Pengumuman Layanan Yudisium-Wisuda

Pengumuman Layanan Perpustakaan Selama Libur Nasional Dan Cuti Bersama Hari Raya Idul Fitri 1446 H

Kegiatan Workshop Pemanfaatan Perpustakaan Berjalan Lancar

Kegiatan Tanya Pustakawan #1: Layanan Bebas Pustaka & Unggah Mandiri Berjalan Lancar

Info Wisuda 2025: Tanya Pustakawan #1- Layanan Bebas Pustaka & Unggah Mandiri

Layanan Pengecekan Turnitin

UPA Perpustakaan ISI Yogyakarta

  • Beranda
  • Informasi
  • Bantuan
  • Pustakawan
  • Masuk
  • Area Anggota
  • Pilih Bahasa :
    Bahasa Arab Bahasa Bengal Bahasa Brazil Portugis Bahasa Inggris Bahasa Spanyol Bahasa Jerman Bahasa Indonesia Bahasa Jepang Bahasa Melayu Bahasa Persia Bahasa Rusia Bahasa Thailand Bahasa Turki Bahasa Urdu

Pencarian berdasarkan :

SEMUA Pengarang Subjek ISBN/ISSN Pencarian Spesifik

Pencarian terakhir:

{{tmpObj[k].text}}
No image available for this title

Tugas Akhir

Krontjong Toegoe: Sejarah Kehadiran Komunitas dan Musiknya di Kampung Tugu, Cllincing, Jakarta

GANAP, Victorius - Nama Orang;

Disertasi ini bertujuan meneliti tentang sebuah komunitas Kristiani yang berada di Kampung Tugu, Jakarta Utara, yang telah mampu bertahan hidup bersama peninggalan musik portugsi yang dikenal sebagai Krontjong Toegoe. Pendapat yang berkembang selama ini mengatakan bahwa komunitas ini berasal dari kelompok mardijkers di Batavia. Namun penelitian disertasi ini menemukan bukti lain, bahwa komunitas Tugu adalah keturunan dari sekelompok laskar laut Portugis asal Goa yang melarikan diri dari Maluku bersama keluarga mereka asal Pulau Banda, dan terdampar di pantai Cilincing. Mereka ditangkap oleh VOC dan pada tahun 1661 dibuang ke Kampung Tugu.
Mereka merupakan leluhur komunitas Tugu yang mewarisi budaya Portugis dari abad ke-16. Akibat terisolasi ddari kehidupan kota, mereka mengusir kesepian dengan barmain musik dan menyajikan lagu-lagu Portugis. Musik mereka kemudian menjadikan cikal bakal genre musikal Krontjong Toegoe, dengan karateristik sebagai musik yang mengiringi kelompok penyanyi dengan gaya yang spontan dan bersahaja tanpa ornamentasi dan vibrato. Genre itu juga memiliki pembawaan ekspresi yang spontan dalam bernyanyi. Lagu Moresco dan Cafrinho memperlihatkan pengaruh Portugis asal Moor dan Afrika. Adapun iringan musiknya terdiri dari tiga gitar jkecil buatan sendiri, yaitu prounga berukuran agak besar, macina berukuran sedang dan jitera berukuran paling panjang.
Musik kerocong diyakini telah dilahirkan di Kampung Tugu sejak lebih dari tiga abad yang lalu. Namun kegiatan tercatat untuk pertama kali ketika mereka mendirikan orkes keroncong Moresco Toegoe pada tahun 1925. Mereka percaya bahwa dengan melestarikan musik keroncong yang diwarikan kepada mereka, itu merupakan penghormatan terhadap leluhur. UNESCO pada tahun 1871 kemudia memproduksi piringan hitam permainan OK Moresco Toegoe yang dipimpin oleh Jacobus Quiko dengan repertoar antara lain lagu-lagu dari masa Hindia Belanda seperti Out Batavia dan Schoon van van jou. Mereka juga sejak tahun 1989 telah acap kali diundang mengadakan pertunjukkan musik keroncong pada pasar malam Tong-tong di Den Haag, Negeri Belanda.
Meski musik Kronjong Toejoe diyakini berasal dari Portugal, penelitian ini mengatakan bahwa Kronjong Toegoe adalah sebuah musik hibrida, campuran dari berbagai budaya Barat dan non-Barat yang membaur membentuk sebuah sintesis musikal yang unik. Komunitas Tugu boleh saja menganggap bahwa mereka adalah keturunan Portugis, namun pada pekenyataannya mereka telah bercampur dengan kelompok etnik lainnya, meniru gaya hidup orang belanda dan sebagian dari mereka adalah keturunan Indo-Belanda.
Betapapun juga, Krontjong Toegoe adalah cikal bakal dari musik keroncong sebagai salah satu aliran besar musik Indonesia, yang telah diterima dan menjadi milik bangsa Indonesia. Komunitas Tugu memang hidup tidak terpisahkan dari musik, karena merut tradisi mereka setiap anggota komunitas Tugu disyaratkan mengenal musik keroncong itu. Itu sebabnya dengan semangat yang mereka miliki acara turun-temurun, kehidupan musik krontong togoe diyakini akan langgeng selamanya.


Ketersediaan
#
Ruang Skripsi DIS/MS/Gan/k/2006
DIS14050770
Tersedia
Informasi Detail
Judul Seri
-
No. Panggil
DIS/MS/Gan/k/2006
Penerbit
Yogyakarta : Pascasarjana UGM., 2006
Deskripsi Fisik
xxi, 479 hlm.: ill., 21 cm.
Bahasa
INDONESIA
ISBN/ISSN
-
Klasifikasi
DIS/
Tipe Isi
-
Tipe Media
-
Tipe Pembawa
-
Edisi
-
Subjek
Musik
Krontjong Toegoe
Musik - Komunitas
Info Detail Spesifik
-
Pernyataan Tanggungjawab
-
Versi lain/terkait

Tidak tersedia versi lain

Lampiran Berkas
Komentar

Anda harus masuk sebelum memberikan komentar

UPA Perpustakaan ISI Yogyakarta
  • Informasi
  • Layanan
  • Pustakawan
  • Area Anggota
  • Visitor
  • Login Pustakawan

  • Beranda
  • Kirim Saran & Pertanyaan
  • Usul Tambah Koleksi
  • OPAC Pascasarjana
  • Koleksi Digital
  • E-Journal

Tentang Kami

UPA Perpustakaan ISI Yogyakarta merupakan perpustakaan perguruan tinggi negeri dengan nilai akreditasi “A” yang didalamnya memberikan beberapa layanan perpustakaan yaitu Layanan sirkulasi, Layanan referensi, Layanan Tugas Akhir (skripsi, tesis, disertasi, laporan penelitian), Layanan terbitan berkala (jurnal, majalah, koran, buletin, tabloid), Layanan fotokopi, Layanan penelusuran informasi dan pustaka elektronik, Layanan Soedarso corner, dan layanan Journal online. Perpustakaan juga dilengkapi dengan laboratorium komputer dan laboratorium bahasa


Statistik Pengunjung Online

Cari

Custom Search



© 2026 — Senayan Developer Community

Ditenagai oleh SLiMS
Pilih subjek yang menarik bagi Anda
  • Karya Umum
  • Filsafat
  • Agama
  • Ilmu-ilmu Sosial
  • Bahasa
  • Ilmu-ilmu Murni
  • Ilmu-ilmu Terapan
  • Kesenian, Hiburan, dan Olahraga
  • Kesusastraan
  • Geografi dan Sejarah
Icons made by Freepik from www.flaticon.com
Pencarian Spesifik